Daftar Isi
Metode FIFO untuk inventory farmasi menjadi salah satu pendekatan paling relevan dalam pengelolaan obat dan alat kesehatan di tengah tuntutan efisiensi dan kepatuhan regulasi.
Berbeda dengan bisnis ritel biasa, farmasi dan fasilitas medis harus memperhatikan masa simpan, kualitas produk, serta akurasi pencatatan keuangan secara bersamaan.
Kesalahan dalam memilih metode pembukuan inventaris dapat berujung pada kerugian finansial hingga risiko keselamatan pasien.
Dalam praktik manajemen persediaan medis, pengelola gudang atau tim operasional menggunakan dua metode utama, yaitu FIFO (First In, First Out) dan Average (Weighted Average Cost).
Pengelola persediaan perlu memahami karakteristik, kelebihan, dan keterbatasan masing-masing metode sebelum menerapkannya dalam operasional harian.

Sumber: Pexels
Dalam praktik pengelolaan stok obat, petugas gudang menerapkan metode FIFO melalui beberapa prinsip utama yang saling berkaitan. Setiap prinsip ini membantu apotek dan fasilitas kesehatan menjaga kualitas produk sekaligus menekan potensi kerugian akibat stok tidak terkontrol.
Perusahaan memakai atau menjual stok pertama yang masuk sebelum stok berikutnya. Pendekatan ini menjaga agar barang lama tidak tertinggal terlalu lama di gudang penyimpanan.
Dalam dunia farmasi, penerapan FIFO bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga soal keamanan. Obat dan alat medis memiliki tanggal kedaluwarsa serta stabilitas kualitas yang terbatas.
Dengan menerapkan metode FIFO untuk inventory farmasi, apotek dan klinik dapat menekan risiko penggunaan produk yang sudah menurun kualitasnya sekaligus mematuhi standar pelayanan kesehatan.
Petugas menempatkan stok obat yang baru datang di bagian belakang rak atau gudang, dan menaruh stok lama di bagian depan. Pola ini memudahkan petugas mengambil barang sesuai urutan tanpa perlu pengecekan manual berulang.
FIFO memungkinkan perusahaan menghindari kerugian dari kedaluwarsa, menurunkan jumlah retur, dan mempertahankan kualitas produk untuk pasien. Selain itu, nilai persediaan yang tercatat cenderung lebih mendekati harga pasar terkini.

Sumber: Pexels
Berbeda dengan FIFO yang berfokus pada urutan fisik barang, metode Average menitikberatkan pada perhitungan nilai persediaan. Perusahaan biasanya menggunakan pendekatan ini ketika variasi harga beli cukup tinggi dan pelacakan setiap unit menjadi kurang efisien.
Metode Average menghitung nilai rata-rata dari seluruh biaya pembelian stok yang tersedia, lalu menggunakan angka tersebut untuk menentukan harga pokok penjualan dan nilai persediaan akhir.
Metode ini cocok diterapkan pada inventory klinik yang menangani produk dengan harga beli fluktuatif dan volume tinggi. Alih-alih melacak biaya setiap unit, sistem cukup menggunakan satu nilai rata-rata untuk seluruh transaksi.
Jika satu jenis obat dibeli dalam beberapa periode dengan harga berbeda, sistem akan menghitung rata-ratanya. Nilai inilah yang digunakan untuk pencatatan penjualan, tanpa memandang unit mana yang secara fisik keluar.
Metode Average membantu menstabilkan laporan keuangan karena fluktuasi harga tidak langsung memengaruhi nilai persediaan. Namun, metode ini perlu dikombinasikan dengan kontrol operasional karena tidak mempertimbangkan tanggal kedaluwarsa secara langsung.
Untuk menentukan metode yang paling sesuai, fasilitas kesehatan perlu melihat kebutuhan operasional dan jenis produk yang dikelola. Berikut perbandingan utama antara FIFO dan Average dalam konteks manajemen persediaan medis.
FIFO lebih unggul dalam konteks farmasi dan layanan kesehatan karena fokus pada pencegahan kedaluwarsa dan perlindungan mutu produk, meskipun membutuhkan pengelolaan stok yang lebih detail.
Metode Average lebih sederhana dan efisien secara administratif, tetapi kurang optimal jika digunakan sendiri untuk produk sensitif waktu.
Dalam praktik manajemen persediaan medis, banyak fasilitas kesehatan mengombinasikan FIFO atau FEFO untuk obat dan bahan sensitif, serta metode Average untuk item medis yang lebih stabil.
Pendekatan ini menciptakan keseimbangan antara keamanan, efisiensi, dan akurasi pencatatan dalam inventory klinik.
Memahami metode FIFO untuk inventory farmasi dan metode Average hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya terletak pada konsistensi penerapan dan akurasi pencatatan di lapangan.
Tanpa dukungan sistem yang terintegrasi, metode terbaik sekalipun tetap berisiko menimbulkan kesalahan.
Di sinilah solusi digital seperti SAFFMedic berperan. Dengan sistem manajemen inventaris, farmasi, dan klinik yang terintegrasi, SAFFMedic membantu fasilitas kesehatan menerapkan FIFO, Average, hingga FEFO secara lebih terkontrol, real-time, dan sesuai regulasi. Hasilnya bukan hanya inventaris yang rapi, tetapi juga operasional yang lebih efisien dan berkelanjutan.
9 September 2024
24 November 2023
Bagikan :